Kalau hampir setiap tahun, anak-anak negeri menyabet medali emas di Olympiade Internasional, entah itu science, fisika, lingkungan atau matematika, Siapa yang berani bilang, anak Indonesia bodho-bodho?
Pasti gak akan ada yang berani bilang begitu.
Tapi kenyataannya, biarpun kita memboyong medali emas bahkan berbagai penghargaan khusus International tetap saja dianggap sebagai Negara ‘bodoh’ oleh orang asing.
Apa pasal?
Ya, anak Indonesia memang pinter, gak dipungkiri, mereka kreatif, aktif dan mempunyai IQ diatas rata-rata, kalau disejajarkan dengan anak-anak negara lain (negara maju) pasti tak kan ketinggalan. Yang dibilang kurang pintar itu adalah negaranya, INDONESIA. Mereka, yang lahir, tumbuh dan besar di bumi pertiwi ini, makan, minum dan mendapat gizi dari negeri katulistiwa ini, tidak memperoleh haknya sebagai anak negeri. Kita bodoh, karena tak mampu menghargai anak negeri, kita bodoh, karena tak mampu memberi ruang nyaman bagi anak-anak berprestasi, kita bodoh karena tak mampu menyediakan fasilitas untuk mereka berkarya.
Prestasi yang mereka raih, tak lebih hanya sekedar hiburan di tengah sepinya pemberitaan di masyarakat, sepertinya, prestasi luar biasa itu bukan sesuatu yang perlu di banggakan. Bukanlah sesuatu yang perlu diapreciate sebagai dorongan bagi generasi mendatang. Para petinggi, lebih sibuk dengan urusan lain dengan prioritas keluarga masing-masing.
Anak pandai kita, merana di negeri sendiri, hasil daya cipta mereka, tak dihargai disini. Penetapan standar gaji yang tak menghiraukan kemampuan seseorang, juga menjadi pangkal masalahnya. Jika mereka berkarya di Indonesia, penghargaan (gaji) yang mereka terima tak sepadan dengan dengan kemampuan mereka yang diatas rata-rata, bahkan (bila di sebuah instansi terdapat orang asing) gaji merekapun lebih sedikit dibandingkan sang ekspatriat.
Tak hanya itu, kepercayaan bangsa ini pada kemampuan sendiri masih sangat jauh. Kita lebih senang menggantungkan diri pada pihak lain, padahal bila asset (anak-anak pandai) yang kita miliki dipupuk sebaik-baiknya, dihargai, dan didaya gunakan sebagaimana mestinya, satu atau dua dasawarsa yang akan datang, anak cucu kita dapat merasakan nikmatnya dan bangga menjadi negeri yang pandai dan mandiri.
Namun, bila perubahan itu tak segera digaungkan, dan sampai saat ini kita masih senang bertahan dengan keadaan ini…
Jangan heran, bila anak-anak brilliant kita memilih negara pemberi beasiswa sebagai labuhan masa depan mereka.
Jangan heran bila dikemudian hari, mereka tak akan bangga lagi menyebut kampung halamanku Indonesia.
Tak perlu risau bila dimasa datang semakin banyak anak yang tidak peduli pada bumi pertiwi ini.
Tak perlu takut bila anggapan bodoh yang selama ini kita dengar, bukan lagi sekedar anggapan, namun benar-benar jadi kenyataan.
Tulisan diatas, hanya sekedar pencerahan bagi kita semua, bahwa sesungguhnya bangsa kita, masih memiliki asset besar bukan hanya dari alam. Masa depan bangsa ini ada di pundak dan di tangan mereka putra putri brilliant bangsa. Semoga, dimasa datang, pendidikan dinegara kita makin maju, dan anak-anak negeri dapat mengembangkan daya cipta terbaiknya di negeri sendiri. Semoga kebanggaan pada Indonesia, tidak akan pernah luntur, apalagi punah.
“SELAMAT HARI ANAK NASIONAL”
Perangi kemiskinan, kekerasan dan kebodohan, sambut hari depan yang cerah, damai dan mandiri.
Hari ini tepatnya tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Keprihatinan terhadap pentingnya pendidikan karakter kepada anak Indonesia memantik kesadaran pemerintah mencanangkan Gerakan Nasional Indonesia Sayang Anak pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2010.
Saya bersama 25 sahabat lainnya yang daftarnya dapat dilihat disini, bersama-sama mendukung Gerakan Nasional Indonesia Sayang Anak pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2010. mengadakan posting kolaborasi.


mampir ah gorengane lo ya ojo lali... http://www.ldiitulungagung.web.id/
coklat e dulu baru gorengan..
hehehe